Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Komponen-Komponen Dalam Suatu Kelas Yang Dapat Dikaji Melalui PTK

Diposting oleh Unknown on Kamis, 05 April 2012


1.      Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Bila kita mau jujur, hampir semua orang akan sepakat bahwa kualitas kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah perlu ditingkatkan. Bagaimana caranya? Angelo dalam Sukayati (2008:6) berpendapat bahwa sebagian pendidik menyatakan, dunia pendidikan dapat ditingkatkan kualitasnya dengan memanfaatkan hasil penelitian dalam bidang pendidikan dan psikologi. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah hasil-hasil penelitian kurang dapat menjawab peningkatan kualitas pendidikan. Para peneliti (dalam penelitian non kelas) telah gagal menjawab persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas.
Mereka lebih tertarik pada aspek publikasi ilmiah dari hasil penelitiannya, dibandingkan dengan kegiatan mengaplikasikan temuannya untuk peningkatan kualitas pendidikan. Para peneliti menyatakan bahwa apa yang dihasilkan dari kegiatan penelitian hanya menjawab persoalan-persoalan umum dalam dunia pendidikan, bukan untuk melakukan aplikasi-aplikasi tertentu dalam kelas-kelas khusus. Itulah sebabnya, persoalan-persoalan teknis yang mendasar dalam dunia pendidikan masih tetap belum terjawab.
Pernyataan tersebut tentu menimbulkan pemikiran bagi kita. Bagaimana hasil-hasil penelitian pendidikan di Indonesia? Apakah pernyataan tersebut juga berlaku?
Pada tahun 1986 dalam usaha untuk mempersempit jurang pemisah antara penelitian dan pengajaran, Praticia Cross dalam Sukayati (2008:7) mengajukan sebuah cara sistematis untuk pengajaran yang dilakukan dalam kegiatan penelitian kelas. Menurut Cross penelitian tindakan  kelas merupakan sebuah cara untuk mengurangi jarak antara peneliti dan praktisi, karena mengangkat persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Hasil penelitian dapat secara langsung dimanfaatkan untuk kepentingan kualitas kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
 Dalam dunia pendidikan, PTK atau Classroom Action Research yang dapat dilakukan oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya, semakin dirasakan manfaatnya baik untuk perbaikan maupun peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Pertanyaan yang kemudian muncul, pernahkah bapak/ibu guru memikirkan untuk mencoba PTK? Atau yang lebih ringan pernahkah bapak/ibu guru membaca laporan hasil PTK? Atau membantu teman guru melaksanakan PTK? Tentu kita tidak mengharap terjadi jawaban dari bapak/ibu yaitu belum sama sekali atau tahu saja baru sekarang. PTK memang masih dirasa asing oleh sebagian besar guru kita, terutama guru SD.
            Dalam istilah aslinya penelitian tindakan kelas disebut dengan Classroom Action Research. Belakangan ini, penelitian ini dinegara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Australia dan Canada telah berkembang dengan pesat. Para ahli penelitian di Negara-negara tersebut menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penelitian tindakan kelas. Faktor penyebabnya menurut Muhammad Asrori (2007) adalah karena  jenis penelitian ini  mampu menawarkan peningkatan profesional guru dalam proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Seorang ahli penelitian Mc. Niff dalam M. Asrori (2007) mengatakan dengan tegas bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran.
            Dengan penelitian tindakan kelas guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran di kelas. Guru juga dapat melakukan penelitian terhadap siswa mengenai aspek interaksi nya dalam proses pembelajaran. Selain itu dengan melakukan penelitian tindakan kelas, guru juga dapat memperbaiki praktik pembelajaran yang dilakukan menjadi lebih berkualitas dan lebih efektif.
Akhirnya dengan penelitian tindakan kelas guru juga dapat mengamati sendiri, merasakan sendiri dan menilai sendiri apakah kegiatan pembelajaran yang diterapkan selama ini memiliki efektivitas yang tinggi terhadap proses hasil belajar. Misalnya saja apakah pemberian pekerjaan rumah kepada siswa terlalu banyak? Apakah umpan balik secara verbal yang diberikan kepada siswa selama ini tidak efektif? Apakah metode mengajar yang digunakan selama ini cenderung membosankan siswa atau tidak? Apakah penggunaan media pembelajaran selama ini sudah cukup dan bagus atau tidak? Dan sebagainya. Jika berdasakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan itu guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran tertentu yang selama ini tidak efektif, maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki proses kegiatan tersebut guna meningkatkan kualitas dan efektivitasnya.
Dengan PTK (menurut Dra. Sukayati, M.pd), guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran agar lebih efektif. PTK juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Alasannya, setelah PTK guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai pembelajaran yang selama ini dilakukan apakah cocok dengan teori belajar mengajar dan dapat diterapkan dengan baik di kelasnya. Melalui PTK guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan proses dan produk pembelajaran agar lebih efektif dan optimal.
            Untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan Penelitian  Tindakan Kelas (PTK) berikut ini disajikan beberapa pengertian PTK yang diambil dari berbagai sumber :
1.     Menurut Suharsimi. A. (2007) ada tiga kata yang membentuk pengertian PTK, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal, serta menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Dalam hal ini kelas bukan wujud ruangan tetapi diartikan sebagai sekelompok siswa yang sedang belajar.
2.   Kasihani (1999) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan PTK adalah penelitian praktis, bertujuan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran di kelas dengan cara melakukan tindakan-tindakan. Upaya tindakan untuk perbaikan dimaksudkan sebagai pencarian jawab atas permasalahan yang dialami guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Jadi masalah-masalah yang diungkap dan dicarikan jalan keluar dalam penelitian adalah masalah yang benar-benar ada dan dialami oleh guru.
3.      Menurut Suyanto (1997) secara singkat PTK dapat di definisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu, untuk memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Oleh karena itu PTK terkait erat dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang dialami guru.
4.   Suhardjono (2007:58) mengatakan abahwa Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dikelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran.
5.  Rustam dan Mundilarto (2004:1) mendefenisikan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
6.   Hopkins (1993) : PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran.
7.      Kemmis (1998): Action research as a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their on social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out.
8.      McNeiff (1992): action research is a term which refer to a practical way of looking at your own work to sheck that it is you would like it to be. Because action research is done by you, the practitioner, it is often referred to as practitioner based research; and because it involves you thinking about and reflecting on your work, it can also be called a form of self-reflective practice.
9.   Rochman Nata Wijaya (1977): PTK adalah pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan kontekstual yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yanh dihadapi atau memperbaiki sesuatu.
10.  Suyanto (1997) : PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapar memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara professional.
11.  Tim PGSM (1999) : PTK sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik pembelajaran  tersebut dilakukan.
12.  Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_tindakan_kelas
13.  Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki dimana praktik-praktik pembelajaran dilaksanakan. Sumber : http://karwono.wordpress.com/2008/02/27/artikel-penelitian-tindakan-kelas-classroom-action-research/
14.  Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Research, yaitu satu action research yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi menjadi meningkat. Sumber : http://nesaci.com/pengertian-dan-karakteristik-penelitian-tindakan-kelas/
Dari berbagai macam penngertian dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diatas dapat di defenisikan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran dikelas menjadi lebih berkualitas sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
Oleh karena itu penelitian tindakan kelas juga merupakan penelitian yang bersifat reparative. Artinya, penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar siswa bisa mencapai hasil yang maksimal.
Penting dipertegas dalam penelitian ini adalah makna kelas itu sendiri. Dalam bahasa sehari-hari kelas sering diartikan sebagai ruangan tempat siswa belajar dan guru mengajar. Pemaknaan kelas seperti ini sebenarnya salah karena terlalu membatasi proses pembelajaran dalam ruang tertentu saja. Dalam pandangan teori pembelajaran kelas adalah sebagai kelompok peserta didik yang sedang belajar, bukan hanya ruang kelas saja.  Dengan pemaknaan seperti itu siswa belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, tetapi juga termasuk ketika mengadakan praktik di laboratorium, membaca buku di perpustakaan, melakukan praktikum di bengkel kerja, atau berkarya wisata ke tempat-tempat peninggalan sejarah. Oleh karena itu Suharsimi (2007:3), mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas dapat dilakukan di laboratorium, di lapangan, di perpustakaan, bengkel kerja atau tempat kunjungan studi; yang penting di tempat itu ada sejumlah siswa yang sedang belajar hal yang sama dari guru atau fasilitator yang sama.

2.      Komponen-Komponen Dalam Suatu Kelas Yang Dapat Dikaji Melalui PTK
Komponen-komponen dalam kelas yang dapat dikaji melalui penelitian tindakan kelas menurut Suhardjono (2007:58), meliputi :
1. Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/lapangan/laboratorium/bengkel kerja, ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah ketika malam hari, atau ketika sedang melakukan kerja bakti di luar sekolah.
2.  Guru, Dapat dicermati ketika guru yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata, atau sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
3.  Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai bahan yang ditugaskan kepada siswa.
4. Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar, dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar, yang diamati adalah guru, siswa atau keduanya.
5.    Hasil pembelajaran, merupakan  produk yang harus ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain, yaitu proses pembelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, guru, dan siswa itu sendiri.
6.  Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, di sekolah, maupun yang melingkungi siswa di rumahnya. Bentuk tindakan yang dapat dilakukan adalah mengubah lingkungan menjadi lebih kondusif.
7.   Pengelolaan, merupakan kegiatan yang sedang diterapkan dan dapat diatur.di rekayasa dalam bentuk tindakan. Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan kegiatan sehingga mudah diatur dan di rekayasa dalam bentuk tindakan. Dalam hal ini yang di golongkan dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara pengelompokan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa dan sebagainya.

Sumber :

1.      Sukayati.( 2008) Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika,
2.      Kasbolah, Kasihani. 1991. Penelitian Tindakan Kelas: Guru sebagai Peneliti. Makalah  disajikan dalam Lokakarya PTK Bagi Guru SLTP, MTs, SMU, MA dan SMK se-Kodya Malang. Malang: IKIP.
3.      Mohommad Ashori (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima.
4.      Suhardjono (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
5.       Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti.
6.      Suharsimi Arikunto (2007).Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
7.      Kemmis,S.and Mc.Taggart, R.(1998).The Action Research Planner. Victoria : The Deakin University.
8.      McNiff, J. (1992). Action research: Principles and practice. London: Routledge
11.  http://karwono.wordpress.com/2008/02/27/artikel-penelitian-tindakan-kelas-classroom-action-research/
More aboutPengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Komponen-Komponen Dalam Suatu Kelas Yang Dapat Dikaji Melalui PTK

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

Diposting oleh Unknown on Rabu, 04 April 2012

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif  Tipe CIRC       
      Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC pertama kali dikembangkan oleh Robert E. Slavin dkk. Alasan utama pengembangan metode ini karena kekhawatiran mereka terhadap pengajaran membaca, menulis dan seni berbahasa oleh guru masih dilakukan secara tradisional.
      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC merupakan singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis[1]yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
2. Komponen-komponen dalam Pembelajaran CIRC
Model pembelajaran CIRC memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut sebagai berikut :
a.        Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa;
b.  Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu;
c.   Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya;
d.    Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya;
e.   Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas;
f.       Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok;
g.      Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa;
h.    Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.[2]

3.  Kegiatan Pokok Pembelajaran CIRC
Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik untuk mencapai tujuan yang di harapkan  dalam pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya adalah:[3]
a.   Membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang secara heterogen .
b.  Guru memberikan wacana sesuai topik pembelajaran.
c.   Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok serta    memberikan tanggapan terhadap wacana/ kliping dan ditulis pada lembar kertas.
d.   Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
e. Guru membuat kesimpulan
f. Pembelajaran

            Selanjutnya kegiatan pokok dalam CIRC dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah juga meliputi kegiatan lainya, yaitu:  (1). Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal, (2). Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel, (3). Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah, (4). Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan (5). Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian.
4.  Penerapan Model Pembelajaran CIRC
Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan[4]:
  1. Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan
  2. Guru memberikan latihan soal
  3. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC
  4. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen
  5. Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok
  6. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik
  7. Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok
  8. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya
  9. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah  memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan
  10. Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya
  11. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator
  12.  Guru memberikan tugas/PR secara individual
  13.  Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya
  14.  Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal  pemecahan masalah
  15. Guru memberikan kuis

5.  Kelebihan Model Pembelajaran CIRC
Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah sebagai berikut:
  1. CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah
  2. Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang
  3. Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok
  4. Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya
  5. Membantu siswa yang lemah
  6. Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah
  7. Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak;
  8. seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama;
  9. membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam
Sumber :

[1]Suyatno, Memjelajahi Pembelajaran Inovatif, (Jatim: Masmedia Buana Pustaka, 2009), hlm, 68.
[2] http : // matematikacerdas. wordpres.com/2010/01/28/model-pembelajaran-kooperatif-tipe CIRC
[3]Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Pendidikan Dalam implementasi Pembelajaran yang Efektif, (Jakarta: Kencana, 2009).hlm, 283.
[4]http://matematikacerdas.wordpres.com/2010/01/28/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-CIRC.
More aboutModel Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

Soal Try Out Ujian Nasional Matematika SMP

Diposting oleh Unknown on Selasa, 03 April 2012


Soal Try Out Ujian Nasional Matematika SMP berikut ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif latihan soal matematika menghadapi Ujian Nasional khususnya buat siswa kelas 9 SMP.


Ujian nasional sudah didepan mata, maka sudah selayaknya siswa ataupun guru mempersiapkan diri untuk menghadapi UN tersebut dengan cara memperbanyak berlatih. Soal try out matematika berikut ini disimpan dalam format doc. atau ms word. Sehingga soal try out ujian nasional matematika ini dapat anda edit kembali dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.


    Silahkan download soal try out ujian nasional matematika SMP di sini <<klik

~ Bank Soal Matematika ~
More aboutSoal Try Out Ujian Nasional Matematika SMP

Soal Matematika Lingkaran dan Kunci Jawaban untuk SMA Kelas 10

Diposting oleh Unknown


Soal Matematika Lingkaran dan Kunci Jawaban untuk SMA Kelas 10 ini dibuat dalam format word/doc. Format penulisan berupa LKS yang dapat anda download secara langsung pada bagian akhir artikel ini.
Soal matematika lingkaran ini semoga dapat bermanfaat untuk siswa-siswi SMA kelas 10 yang ingin memperbanyak latihan mengerjakan soal khususnya pada bab materi lingkaran. Dan juga bermanfaat bagi guru yang ingin memberikan LKS matematika lingkaran untuk SMA kelas 10.


Silahkan download soal matematika lingkaran untuk SMA kelas 10 disini <<klik

dan kunci jawaban soal matematika lingkaran untuk SMA kelas 10 disini <<klik

More aboutSoal Matematika Lingkaran dan Kunci Jawaban untuk SMA Kelas 10

Pengertian dan Perubahan Yang Mendasari PAIKEM

Diposting oleh Unknown on Senin, 02 April 2012


A.    Pengertian PAIKEM
PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Selanjutnya, PAIKEM dapat didefinisikan sebagai: pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. Selain itu, PAIKEM juga memungkinkan siwa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata “disuapi” guru. Di antara metode-metode mengajar yang amat mungkin digunakan untuk mengimple- mentasikan PAIKEM, ialah: 1) metode ceramah plus, 2) metode diskusi; 3) metode demonstrasi; 4) metode role-play; dan 5) metode simulasi.
Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.
Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1.   Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2.     Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
4.      Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
5.  Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Berikut ini penjelasan mengenai PAIKEM sesuai dengan huruf yang menyusun namanya, pembelajaran 
PAIKEM adalah salah satu contoh pembelajaran inovatif yang memiliki karakteristik aktif, kreatif, efektif, 
dan menyenangkan.
        1. Aktif
Pengembang pembelajaran ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai pengalaman untuk memperoleh pemahaman baru. Siswa aktif terlibat di dalam proses belajar mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Teori belajar konstruktivisme merupakan titik berangkat pembelajaran ini. Atas dasar itu pembelajaran ini secara sengaja dirancang agar mengaktifkan anak.
Di dalam implementasinya, seorang guru harus merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau strategi-strategi yang memotivasi siswa berperan secara aktif di dalam proses pembelajaran. Mengapa pembelajaran harus mengaktifkan siswa? Hasil penelitian menunjukkan bahwa kita belajar 10% dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita lihat dan dengar, 70% dari yang kita ucapkan, dan 90% dari yang kita ucapkan dan kerjakan serta 95% dari apa yang kita ajarkan kepada orang lain (Dryden & Voss, 2000). Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh individu tersebut.
2.      Inovatif
Pembelajaran PAIKEM bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.
3.      Kreatif
pembelajaran PAIKEM juga dirancang untuk mampu mengembangkan kreativitas. Pembela haruslah memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, inisiatif, dan kreativitas serta kemandirian siswa sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Kemandirian dan kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua bentuk pembelajaran. Dengan dua bekal itu setiap orang akan mampu belajar sepanjang hidupnya. Ciri seorang pebelajar yang mandiri adalah: (a) mampu secara cermat mendiagnosis situasi pembelajaran tertentu yang sedang dihadapinya; (b) mampu memilih strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajarnya; (c) memonitor keefektivan strategi tersebut; dan (d) termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan.
4.      Efektif
Menyiratkan bahwa pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencapai semua hasil belajar yang telah dirumuskan. Karena hasil belajar itu beragam, karkteristik efektif dari pembelajaran ini mengacu kepada penggunaan berbagai strategi yang relevan dengan hasil belajarnya. Banyak orang beranggapan bahwa berbagai strategi pembelajaran inovatif termasuk PAIKEM seringkali tidak efisien (memakan waktu) lebih lama dibandingka dengan pembelajaran tradisional/konvensional. Hal tersebut tentu amat mudah dipahami, dalam pembelajaran PAIKEM banyak hasil belajar yang dicapai sehingga memerlukan waktu yang lama, sementara pada pembelajaran tradisional hasil belajar yang dicapai hanya pada tataran kognitif saja.
5.      Menyenangkan
Pembelajaran yang dilaksanakan haruslah dilakukan dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan. Mengapa pembelajaran harus menyenangkan? Dryden dan Voss (2000) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak diikuti suasana tegang sangat baik untuk membangkitkan motivasi untuk belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Menurut penelitian, anak-anak menjadi berminat untuk belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman mereka dan disesuaikan dengan alam berpikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apa lagi jika disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar. Ciri yang terakhir ini merupakan ciri pembelajaran kontekstual. Dengan demikian pembelajaran PAIKEM sebenarnya juga pembelajaran kontekstual.

B.     Perubahan Yang Mendasari PAIKEM
       PAIKEM  dikembangkan berdasarkan beberapa perubahan diantaranya sebagai berikut:
1. Peralihan dari belajar perorangan (individual learning) ke belajar bersama  (cooperative learning);                                                                                                                                                    
2.      Peralihan dari belajar dengan cara menghafal (rote learning) ke belajar untuk memahami (learning for understanding);                                                                                                                                                                    
3.  Peralihan dari teori pemindahan pengetahuan (knowledge-transmitted) kebentuk interaktif, keterampilan proses dan pemecahan masalah;      
4.      Peralihan paradigma dari guru mengajar  ke siswa belajar;
5.  Beralihnya bentuk evaluasi tradisional ke bentuk authentic assessment seperti portofolio, proyek, laporan siswa, atau penampilan siswa (Shadiq dalam Setiawan, 2004)
Dasar peralihan tersebut di atas sesuai dengan  PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 19, ayat (1) yang berbunyi:
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpar- tisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Sumber :
Muhibbin Syah, Bahan Pelatihan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (PAIKEM), PLPG Rayon Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan  UIN Sunan Gunung Djati , Bandung, 2009
Setiawan. 2004. Strategi Pembelajaran Matematika yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM). Makalah disampaikan pada Diklat Instruktur Pengem- bang Matematika SMA Jenjang Dasar. Di PPPG Mate- matika Yogyakarta pada tanggal 6 – 19 Agustus 2004.
http://abdundari.blogspot.com/2009/05/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif.htm
More aboutPengertian dan Perubahan Yang Mendasari PAIKEM

Rumus Lengkap Matematika SMA Kelas 12

Diposting oleh Unknown on Minggu, 01 April 2012

Rumus lengkap matematika SMA kelas 12 ini dibuat sebagai lanjutang dari posting sebelumnya tentang kumpulan rumus matematika SMA kelas 11. Pelajaran matematika memang masih menjadi pelajaran yang banyak dihindari oleh para siswa.
Hal ini terjadi karena pandangan tentang tingkat kesulitan dalam pelajaran matematika yang tinggi. Padahal jika kita sudah mencintai matematika, percaya atau tidak justru akan beranggapan matematika itu pelajaran paling mudah.


Rumus lengkap matematika SMA kelas 12 ini semoga dapat membantu para siswa yang membutuhkannya. Dengan mengetahui, memahami dan berlatih menggunakan rumus-rumus matematika, diharapkan penguasaan siswa terhadap matematika semakin meningkat. Silahkan download rumus lengkap matematika untuk SMA kelas 12 melalui link dibawah ini. Setiap link download disesuaikan dengan satuan materi matematika SMA kelas 12.

• Rumus Integral
• Rumus Vektor
• Rumus Matriks
• Rumus Transformasi
• Rumus Baris & Deret
• Rumus Irisan Kerucut

sumber
More aboutRumus Lengkap Matematika SMA Kelas 12

Kumpulan Rumus Matematika SMA Kelas 11

Diposting oleh Unknown


Bank soal matematika kali ini akan membagikan link download untuk kamu yang membutuhkan kumpulan rumus matematika SMA kelas 11, setelah pada kesempatan lalu membagikan kumpulan rumus matematika SMA kelas 10
Dengan adanya kumpulan rumus matematika ini diharapkan dapat membantu kamu semuanya dalam menguasai matematika. Silahkan download secara gratis melalui beberapa link dibawah ini.  setiap link dibedakan berdasarkan bab pada pelajaran matematika SMA kelas 11.

Berikut ini adalah link download kumpulan rumus matematika SMA kelas 11:

• Rumus Trigonometri Lanjutan
• Rumus Statistika
• Rumus Peluang
• Rumus Lingkaran
• Rumus Fungsi
• Rumus Limit
• Rumus Turunan

Jangan lewatkan untuk terus mengikuti artikel lainnya dari bank soal matematika. Kami juga menerima partisipasi kamu yang ingin membagikan koleksi soal soal matematika agar dapat memberikan manfaat yang lebih banyak kepada yang membutuhkan.
More aboutKumpulan Rumus Matematika SMA Kelas 11