Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Artikel Islam

Diposting oleh Unknown on Rabu, 14 September 2011

Artikel Islam merupakan sajian artikel yang berkisar tentang Agama Islam yang dibuat dengan berlandaskan AL-Qur'an dan Al-Hadits sebagai dua sumber ajaran Islam yang utama. Tema-tema yang disajikan bisa berupa masalah Tauhid, Fiqh, dan Tasauf.

Di situs secepat-speedy.blogspot.blogspot.com ini kami memeberikan Artikel Islam yang berkualitas yang ditulis oleh team admin dan rekan-rekan penulis lainnya yang berpengalaman.
More aboutArtikel Islam

Download Pengajian Al-Qur'an Juz Amma

Diposting oleh Unknown on Kamis, 11 Agustus 2011

Juz ‘Amma, yang merupakan juz ke 30 atau terakhir dari kitab suci kita al-Qur-an, merupakan bagian yang paling sering kita dengar dan paling sering kita baca. Ketika kita pertama kali belajar membaca al-Qur-an di masa kecil, hal pertama yang kita pelajari adalah membaca dan menghafal surat-surat pendek yang terdapat di dalam Juz ‘Amma. Ditambah lagi kebanyakan para imam di masjid-masjid lebih sering membaca surat-surat pendek yang terdapat di dalam juz ‘Amma, daripada membaca surat-surat di dalam juz-juz lainnya, baik secara lengkap maupun berupa penggalan surat. Sehingga dengan demikian surat-surat tersebut terasa begitu akrab dan tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan banyak di antara kita yang hafal surat-surat tersebut di luar kepala.

Inilah Surah Al-Qur'an yang termasuk Juz Amma(Nomor di belakang nama Surah menunjukkan no. surah dalam Al-Qur'an):

78. An-Naba’
79. An-Nazi`at
80. `Abasa
81. At-Takwir
82. Al-’Infitar
83. Al-Mutaffifin
84. Al-’Inshiqaq
85. Al-Buruj
86. At-Tariq
87. Al-’A`la
88. Al-Ghashiyah
89. Al-Fajr
90. Al-Balad
91. Ash-Shams
92. Al-Layl
93. Ad-Duhaa
94. Ash-Sharh
95. At-Tin
96. Al-`Alaq
97. Al-Qadr
98. Al-Bayyinah
99. Az-Zalzalah
100. Al-`Adiyat
101. Al-Qari`ah
102. At-Takathur
103. Al-`Asr
104. Al-Humazah
105. Al-Fil
106. Quraysh
107. Al-Ma`un
108. Al-Kawthar
109. Al-Kafirun
110. An-Nasr
111. Al-Masad
112. Al-’Ikhlas
113. Al-Falaq
114. An-Nas

Download Pengajian Al-Qur'an Juz Amma



Juz ‘Amma merupakan juz dengan jumlah surat terbanyak. Di dalamnya terdapat 37 surat. Dimulai dengan surat an-Naba’ dan di-akhiri dengan surat an-Naas. Sebagian besar dari surat-surat tersebut, yaitu sebanyak 34 surat, merupakan surat Makkiyyah, yaitu surat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Sedang tiga surat selebihnya, yakni al-Bayyinah, az-Zalzalah dan an-Nashr merupakan surat Madaniyyah, yaitu surat yang turun setelah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam hijrah ke Madinah.

Ciri khas surat-surat Makkiyyah di antaranya adalah, ayatnya pendek-pendek, susunan kalimatnya sangat indah dan menyentuh, bersastra tinggi dan penuh dengan argumen kuat tak terbantahkan yang meruntuhkan paradigma dan keyakinan kaum musyrikin. Seba-gian besar bahasannya mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah Ta’ala di alam semesta, kehidupan akhirat, perjumpaan dengan Allah dan hari Pembalasan. Semua itu tertuang dalam ayat-ayat pendek, dengan bahasa yang begitu indah dan sangat menyentuh.
Di samping itu di dalam Juz ‘Amma terdapat banyak surat yang memiliki keutamaan. Di antaranya adalah surat al-Ikhlash, al-Falaq, an-Naas dan lam-lain. Tentang surat al-Ikhlas misalnya, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya (surat al-Ikhlash) itu sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari).

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan lain berkaitan dengan surat-surat dalam Juz ‘Amma.

Pertanyaannya adalah, pernahkah terpikirkan oleh kita untuk mencari tahu makna dan kandungan yang terdapat di dalam surat-surat yang tidak asing lagi di telinga kita tersebut? Di dalamnya terdapat banyak rahasia penting dan sangat berharga yang dapat kita raup darinya, lebih dari hanya sekedar kita baca atau kita dengar. Intri sebelum ini adalah terdiri daripada surah surah jua ‘amma.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Alquran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Alquran lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).
More aboutDownload Pengajian Al-Qur'an Juz Amma

Umat Jangan Hanya Beramal saat Ramadhan

Diposting oleh Unknown on Rabu, 10 Agustus 2011

Selama ramadhan tingkat beramal masyarakat sangat tinggi. Sayangnya, kecenderungan itu menurun saat 11 bulan berikutnya. "Ini yang jadi masalah," kata President Direktur, Dompet Dhuafa, Ismail Agus Said, kepada Republika.co.id, Rabu (10/9). Ia mengatakan beramal kepada sesama tidak perlu menunggu bulan suci Ramadhan. Sebab, beramal bisa dilakukan kapan pun.

Menurut Ismail, kecenderungan itu tidak salah. Tapi akan lebih baik apabila aktivitas sosial tidak perlu menunggu Ramadhan tiba. Dengan demikian, mereka yang berhak dapat segera terbantu. "Saya pikir, lantaranan pahalanya lebih besar, maka masyarakat lebih memilih beramal saat Ramadhan," kata dia.

Solusinya, kata Ismail, Lembaga Amal dan Zakat (LAZ) agar lebih aktif lagi dalam mengajak masyarakat. Pihaknya misalnya, selalu mengedepankan program yang sedang berjalan lalu diberitahukan kepada para donatur untuk turut menyumbang. "Para donatur kita kan masih pasif, jadi LAZ harus lebih aktif lagi menarik masyarakat untuk beramal," kata dia.

Sementara itu, sampai hari ke 10 Ramadhan, Dompet Dhuafa telah menjalin kerjasama dengan 10 perusahan nasional untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang berhak. Kondisi itu serupa dengan Ramadhan tahun lalu. "Selama Ramadhan pasti kita sibuk, apalagi banyak perusahaan yang hendak menyalurkan bantuan," kata dia.

Bantuan yang diberikan cukup bervariasi. Mereka ada yang memberi bantuan tunai dan makanan. Namun, katanya, yang paling banyak diminta adalah buka bersama anak yatim piatu.

Untuk Ramadhan ini, Dompet Dhuafa menargetkan penyaluran bantuan senilai 60 miliar rupiah. Setiap bantuan yang diberikan akan disesuaikan dengan sasaran secara merata. "Tahun kemarin saja bisa 220 miliar. Artinya apa, masyarakat mulai giat beramal. Tapi yaitu tadi, diharapkan jangan bulan Ramadhan saja," kata dia.
More aboutUmat Jangan Hanya Beramal saat Ramadhan

Ramadhan memberi pendidikan bagi umat

Diposting oleh Unknown

Ramadhan memberikan pelajaran pendidikan bagi umat, betapa hidup harus disyukuri dan kesyukuran dimanifestasikan dalam wujud membangun hubungan dengan Allah dan manusia.

"Hubungan kepada Allah, melaksanakan ibadah yang diperintahkannya, sedangkan kepada manusia berbagi dan peduli bersama," kata Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Langkat, Nuraida Ngogesa Sitepu, tadi malam.

Kehadiran Ramadhan dapat pula meningkatkan pelayanan terhadap suami, mendidik dan mengasuh anak, menghormati jiran tetangga, serta tata cara pergaulan hidup di masyarakat.

Oleh karenanya, jangan sampai Ramadhan hadir tidak memberikan kesan positif, terutama terhadap perilaku dan keseharian untuk menghargai satu dengan yang lainnya.

Nuraida menyatakan, seseorang yang menjalankan Ramadhan dengan baik, tentu tidak dibenarkan lagi menyimpan benih-benih permusuhan.

Saling iri, dengki, khianat, sombong, menyepelekan orang lain, serta berbagai sifat tercela lainnya, semuanya harus dihilangkan dengan Ramadhan.

"Kalau sifat tersebut masih bersemayam dalam diri kita, maka akan sia-sialah Ramadhan yang kita laksanakan, karena tidak mampu merubah diri kita untuk berbuat kebaikan," kata Nuraida.

Sebab, kesuksesan seseorang, sesungguhnya diukur dari seberapa kemampuannya mempersiapkan generasi keturunannya menjadi manusia yang berguna bagi agama dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sementara itu, Al Ustadz Irfan Yusuf, menguraikan penghuni neraka salah satunya adalah mereka yang tidak mampu menahan lidahnya dari perkataan kotor, memfitnah dan membuka aib saudaranya.

Hal-hal menahan diri terhadap perbuatan sia-sia tersebut diajarkan dalam Ramadhan, karenanya bila masih dilakukan maka ibadah puasa orang yang bersangkutan tidak memiliki nilai di sisi Allah SWT.

Ia mengatakan, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dalam melayani suami dan mengurus anak serta mengatur kebutuhan rumah tangga, merupakan ladang amal tersendiri yang mempunyai nilai besar jika dilakukan ikhlas.
More aboutRamadhan memberi pendidikan bagi umat

Makna Ramadhan

Diposting oleh Unknown

Ada banyak istilah yang dihubungkan dengan bulan Ramadhan. Di antaranya adalah shahrul ibadah, shahrul maghfirah, shahrul jihad, dll. Setiap istilah mengandung makna yang pada hakikatnya memberikan motivasi kepada kaum muslimin untuk berlomba-lomba memuliakan penghulu dari sekalian bulan ini dengan beragam aktivitas religius maupun sosial.


Shahrul Ibadah identik dengan motivasi untuk selalu melaksanakan ibadah baik wajib maupun sunat pada siang hari ataupun malam. Pada bulan Ramadhan banyak orang termotivasi untuk beribadah. Orang yang biasanya cenderung menebar maksiat dalam setiap tarikan napasnya, tiba-tiba rajin datang ke masjid atau surau untuk mendirikan shalat berjamaah setiap waktunya.


Mereka yang terbiasa membuka aurat, tiba-tiba tampil saban waktu dengan sedemikian apiknya berbusana muslim atau muslimah, baik di rumah maupun kala berpergian ke suatu tempat di luar rumah. Orang yang biasanya tidak memiliki kepekaan sosial dan pelit alias kikir, tiba-tiba saja menjadi sangat peduli, memiliki kepekaan sosial, dan dermawan. Mereka berpacu untuk berinfak, berwakaf, dan bersedekah untuk sekadar meringankan beban fakir miskin, anak terlantar, menyantuni anak yatim, serta perbaikan dan pembangunan rumah ibadah.


Begitulah di antara fenomena menakjubkan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita setiap kali bulan Ramadhan datang. Hal ini adalah wajar karena memang di Ramadhan, Allah SWT berjanji akan melipatgandakan nilai setiap ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba. Ibadah sunat diberi nilai setara dengan nilai ibadah wajib, ibadah wajib diganjar dengan pahala yang berlipat ganda bahkan sampai 70 kali lipat. Itulah pesan dan motivasi yang disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits beliau. Akan tetapi saudara-saudaraku, “budaya tiba-tiba” ini secara perlahan mari kita ubah sehingga kita menjadi muslim yang istiqomah. Berdoalah kepada Allah azza wajalla.


Ramadhan juga disebut shahrul maghfirah, yaitu bulan penuh ampunan. Manusia yang menyadari kesalahannya lantas bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT sedangkan ia sedang puasa, maka tiada penghalang baginya untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Di samping itu, doa-doa orang yang berpuasa segera di-ijabah olehNya. Sedemikian rupa kemahapemurahan Allah SWT terhadap orang-orang yang berpuasa. Sekali lagi, ini adalah berita gembira yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bagi orang-orang yang berpuasa


Ramadhan juga disebut shahrul jihad atau bulan perjuangan atau bulan Kesungguhan. Artinya, setiap orang yang berpuasa mestilah dengan segala daya dan upaya memelihara ibadah puasanya agar tidak tercemar oleh virus-virus akidah dan akhlak.


Di antaranya, syirik, fasiq, munafik, gunjing ghibah, dusta kizb, atau sumpah palsu, yang sengaja atau tanpa sadar akan menggerogoti nilai ibadah puasa hingga tidak memiliki arti apa-apa disisi Allah Swt.


Disamping memelihara diri secara jelimet ihtisab dari ancaman virus-virus akidah dan akhlak tersebut, orang yang sedang berpuasa juga mesti menunjukkan kesungguhan dalam melakoni berbagai aktivitas keduniaan seperti guru, pegawai, sopir, tukang, pedagang, dll.


Jangan sampai puasa dijadikan kambing hitam untuk tidak jujur, lalai dalam memberikan pelayanan kepada siapa saja yang membutuhkan sehingga dapat memancing timbulnya fitnah, gunjing, amarah, dsb. Tidak boleh ada urusan orang lain yang terlantar karena ketidakdisiplinan dan kurangnya tanggung-jawab.
More aboutMakna Ramadhan

Makna Ganda Ibadah Puasa

Diposting oleh Unknown on Jumat, 05 Agustus 2011

Puasa secara etimologis berarti menahan, yaitu menahan makan, minum, kegiatan seksual dan hal-hal lain yang bisa mengurangi atau membatalkan puasa. Sebagai ibadah individual, maka puasa merupakan ibadah yang hanya diketahui oleh pelaku dan Allah saja. Orang bisa berpura-pura puasa, padahal sebenarnya tidak. Bahkan, orang bisa melakukan puasa, tetapi tidak memperoleh pahala dari ibadah puasanya.

Puasa merupakan proses penyucian diri. Dari aspek ini, puasa memang merupakan instrumen untuk membangun kesadaran bagi manusia untuk selalu taat kepada Allah, sehingga akan membentuk sikap dan tindakan kesalehan ritual. Akan tetapi sesungguhnya puasa juga memiliki makna sosial, sebab puasa bisa menjadi instrumen untuk membangun kesadaran sosial.

Puasa akan mengarahkan sikap dan tindakan manusia untuk kesalehan sosial. Puasa yang dilakukan dengan keikhlasan yang tinggi tentu akan bisa mengantarkannya untuk memiliki kesadaran kritis tentang dunia di sekelilingnya. Kesadaran tersebut berupa pemahaman bahwa kelaparan, kehausan, dan menahan hawa nafsu ternyata bukan persoalan sederhana.

Melalui puasa, akan diketahui bagaimana rasanya menahan lapar, bagaimana rasanya menahan haus, dan bagaimana rasanya menahan semua hawa nafsu kemanusiaannya. Jadi, melalui puasa, akan dirasakan pengalaman yang selama ini tidak dihiraukannya. Melalui puasa yang dilakukan, maka akan timbul dampak tentang solidaritas sosial. Mereka akan menjadi sayang kepada sesamanya.

Jika ada orang yang lapar, akan tergerak hatinya untuk memberinya makan. Jika ada orang yang kehausan, akan muncul kesadarannya untuk memberikan minuman. Jika ada orang yang kesulitan, akan tergerak batinnya untuk mencari penyelesaian.

Puasa yang dilakukan dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan perhitungan atau imanan wa ihtisaban, maka akan mengantarkannya kepada kesadaran baru tentang pentingnya membangun solidaritas sosial secara tuntas di dalam kehidupan. Dengan demikian, puasa tidak hanya mengandung dimensi ritual an sich, tetapi juga mengandung makna kesadaran sosial.

Puasa yang benar adalah ketika puasa tersebut dapat menjadi instrumen di dalam kerangka untuk menyayangi sesama manusia, sebagaimana yang bersangkutan menyayangi dirinya sendiri. Dengan demikian, puasa akan menjadi bermakna ketika puasa yang dilakukan dapat membangun kesadaran baru tentang pentingnya membangun ritualitas yang saleh dan sekaligus juga membangun sosialitas yang saleh. Wallahu a'lam bi al shawab.

Nur Syam
Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya
More aboutMakna Ganda Ibadah Puasa

Puasa tidak Sekadar Lapar dan Dahaga

Diposting oleh Unknown

Ibadah puasa Ramadhan memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah SWT. Allah SWT akan memberikan pahala berlipat ganda sesuai dengan kualitas puasa yang dilakukan seorang hamba.

Semakin tinggi kualitas puasa hamba tersebut, maka semakin besar pula pahala yang ia dapatkan. Puasa dengan kualitas tinggi adalah puasa yang tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Rasulullah SAW bersabda, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabraniy)


Apa makna di balik ini semua? Mengapa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa dari amalan ibadah puasa kendati telah susah payah menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari?


Setiap muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa harus senantiasa mengingat bahwa ibadah puasa yang sedang ia jalani bukan sekadar untuk menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi harus pula menjaga lisan dan seluruh anggota badan lain dari segala yang dilarang Allah SWT. Namun, bukan berarti ketika tidak sedang menjalankan ibadah puasa kita boleh melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Maksud dari hal ini adalah bahwa ancaman perbuatan maksiat itu lebih berat bila dilakukan pada saat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini. Karena itu, ada tiga hal penting yang perlu kita perhatikan saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan agar memperoleh balasan dan keutamaan-keutamaan sebagaimana janji Allah SWT.


Pertama, setiap muslim harus membangun ibadah puasa di atas iman kepada Allah SWT dengan semata-mata hanya untuk mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekadar ikut-ikutan orang lain. Jika puasa kita jalani dengan ikhlas, insya Allah kita akan mendapatkan pahala, dan terlebih dapat meraih tujuan utama dari puasa, yaitu meningkatnya ketakwaan kepada Allah. Namun, jika puasa kita tidak ikhlas dan hanya untuk tujuan-tujuan duniawi semata, maka yang kita dapat hanya rasa lapar dan dahaga saja. Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat, dan bagi setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Kedua, menjaga anggota badan dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT, seperti menjaga lisannya dari dusta, gibah, gosip, dan lain-lain. Rasulullah SAW bersabda mengenai hal ini, ”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah SWT tidak peduli dia meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)


Ketiga, bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas segala bentuk ejekan dan hinaan yang ditujukan kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti, maka katakanlah saya sedang berpuasa.” (HR. Muslim)


Dari tiga uraian di atas kita dapat memetik hikmah bahwa sesungguhnya puasa itu merupakan wahana pelatihan bagi kita kaum muslim agar terbiasa taat kepada Allah SWT dan memiliki akhlak mulia dalam diri. Puasa itu ibarat sebuah pakaian bagi kita. Jika kita selaku pengguna pakaian menjaganya dari noda dan kotoran, maka tentu pakaian tersebut akan memperindah penampilan kita. Demikian pula ibadah puasa, kita tidak akan mendapatkan faedah apa-apa dari ibadah puasa yang kita jalani apabila kita tidak mampu menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi atau menghilangkan pahala puasa.


Harus diakui bahwa masih banyak di antara kita yang terjebak pada rutinitas ibadah puasa semata. Puasa tidak lain sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selebihnya, tetap bersikap merugikan orang lain, bermalas-malasan, dan tindakan-tindakan lain yang hanya memuaskan hawa nafsu pribadi.


Untuk itu, saya ingin mengajak kita semua untuk menjadikan ibadah puasa Ramadhan sebagai momentum untuk mengubah pola pikir (mindset) tersebut. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam kesenangan sesaat.
More aboutPuasa tidak Sekadar Lapar dan Dahaga

Bolehkah Pekerja Keras Meninggalkan Puasa?

Diposting oleh Unknown

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang nilainya sangat tinggi karena Allah sendiri yang menganugerahkan balasannya, sehingga bila tidak menjalankannya berarti orang kehilangan keutamaan yang besar. Ia merupakan kewajiban atas setiap muslim yang mukallaf, kecuali ia sakit atau musafir atau semakna dengan salah satu dari keduanya yang diberi rukhshah (keringanan) untuk berbuka, namun wajib mengqadhanya di hari yang lain. Pekerja keras bukan termasuk dalam kategori orang yang diringankan untuk berbuka puasa. Berat atau ringannya pekerjaan bukan sebab yang meringankan orang untuk berbuka.

Pekerja keras bila merasa berat menjalankan puasa, agar berusaha mencari pekerjaan lain yang memungkinkannya berpuasa dan mencari nafkah sekaligus atau waktu kerjanya dialihkan ke malam hari. Bila ia tidak menemukan pekerjaan ringan sedangkan ia wajib menafkahi dirinya dan keluarganya, maka ia harus mencoba dulu berpuasa dan wajib berniat puasa sejak malam hari, kemudian bekerja seperti biasa dalam kondisi berpuasa. Bersahurlah dengan porsi makanan yang menguatkan dan menjaga stamina tubuh.

Ketika ia mengalami kesulitan dan benar-benar tidak mampu melanjutkan puasa dengan isyarat tanda-tanda awal yang muncul pada fisiknya, seperti lemas sekali dan kehilangan tenaga, pada kondisi demikian ia boleh berbuka, namun wajib mengqadhanya di hari lain. Dalam kondisi tetap kuat berpuasa dan tidak mengalami kesulitan, maka wajib atasnya untuk meneruskan dan menyempurnakan puasanya hingga tenggelam matahari.
More aboutBolehkah Pekerja Keras Meninggalkan Puasa?